Angklung

Angklung. Orang sunda mana sih yang nggak kenal angklung. Kalau ada yang nggak tau angklung itu apa, berarti perlu dipertanyakan keabsahannya sebagai orang sunda. hehe. Yang penting tau dulu deh kalo angklung itu adalah alat musik aseli dari tanah Sunda yang terbuat dari bambu yang bunyinya merdu mendayu dayu. 
Aku sendiri adalah orang Sunda, Mojang Bandung. Yang dari TK belum pernah sekalipun main angklung, megang-megang sih pernah tapi kapannya lupa ya. Di SD ketika ada acara pekan seni atau acara perpisahan anak kelas 6, aku selalu dapat bagian menari jaipong. Jadi jangan salahin kalo aku tidak pernah main angklung. 
Masuk masa SMP, SMA aku sama sekali tidak mengenal kurikuler berbau musik. Ma'lum aku masuk pesantren, di Tsanawiyyah dan Mu'allimin Persatuan Islam no 110 Manba'ul Huda, para santri nggak dikenalin kepada hal yang berbau seni. Musik paling nasyid, walau aku lebih sering dengerin lagunya Westlife ketimbang Raihan. hihi. Niatnya kan bagus buat belajar bahasa Inggris. Yay! What a feasible excuse! Musik aja nggak diajarin apalagi alat musiknya. 
Oh aku ingat, pernah sekali waktu aku pesantren di Babussalam yang hanya makan waktu setahun, setelah itu aku pindah karena ada masalah yang mendesakku harus hengkang dari sekolah itu. Dulu aku pernah main suling, lagu yang diajarkan lagu Sabilulungan, lagu yang waktu SD aku ingat dipakai sebagai backsound untuk Pencak Silat. Marvellous! Jadi begitulah, Suling dan tari Jaipong adalah satu-satunya eh dua-duanya hal berbau kesenian yang pernah aku geluti.
Lalu beranjak ke masa kuliah S1 di departemen Pendidikan Bahasa Inggris UPI aku pernah berniat sekali masuk himpunan kesenian KABUMI UPI. Dengar-dengar himpunan seni ini sering keluar negeri untuk memperkenalkan kesenian dan budaya Indonesia. Jadi selain menyalurkan jiwa seni yang tidak tersalurkan ini, kelebihan lainnya adalah jalan-jalan keluar negeri gratis. Neat!
Sayang, aku segera menyadari kalau mengikuti himpunan tersebut ada hal yang harus aku tunjukkan pada dunia publik yaitu lekak lekuk tubuh dan wajah yang selalu terpoles make up. Aku cuma takut dibilang tabarruj (bersolek berlebihan). Akhirnya aku urungkan niatku.
Dan kini aku disini, di Korea menemani suamiku. Menjadi ibu rumah tangga, mencoba berexperimen masakan-masakan baru, mencuci, menjemur, menyapu, mengepel, membaca, menulis blog, belajar bahasa Korea dll. Suatu ketika teman-teman suamiku mengajakku menjadi bagian dari performer di acara Culture Fair di kampus mereka dan suamiku. Kami berencana menampilkan permainan angklung. Kami menyuguhkan lagu Gundul-gundul Pacul dan lagu anak-anak Korea berjudul Gom Se Mari. Kami juga menyuguhkan masakan Indonesia terdiri dari Sate, Mie Goreng Jawa, Risoles dan Sekoteng.
Ternyata takdir mempersatukan aku dengan angklung malah jauuuuhhh dari ranah Sunda yaitu di Korea Selatan. Begitu lah takdir, misterius dan penuh kejutan.
Pasukan Angklung

Kuliner Indonesia

0 komentar:

Post a Comment