Showing posts with label special moment. Show all posts
Showing posts with label special moment. Show all posts

A Heavenly Waffle

0 komentar
Today is Monday, April 16th 2012, when I tasted the most scrumptious waffle on earth \^.^/. I will never let this memory go of my mind since it blew my mind instead. Good Lord...is every word my friend, Witha, and I murmured while enjoying the waffle.
This afternoon was supposed to be the day we hunted for some blossoming cherry blossom flowers, but rather we found it disappointing that some of their petals were gone by the wind. It was not that perfect timing to capture near those kinds of fallen flower trees. Thus, we decided just to take a stroll by the side of the road and look for some well-known Korean snacks, one of them is Odeng. Then we let ourselves have some, actually I only ate one Odeng and my friend had more than one, Odengs. When we nearly finished our Odeng, her Odengs actually again, kkkkk, it just crossed my mind about waffle, my favourite dessert, even though not so many waffles I have ever tasted, I asked if she also knew about the waffle shop or whatsoever near the vicinity. And she said that she has her own favourite waffle vendor which is absolutely incredibly yummy. Well, since I still remember that the waffle shop I once had a crush on when I took a walk with my hubby is near the Odeng vendor, then I firstly showed her where it was. Voila! She finally remembered that IT is also the waffle cafe that she adores. My my, what a coincidence! Since she had been there before with her buddies, she really recommended that we turn our failed-cherry blossom-hunting to enjoying the waffle in that cafe. I was broke at that time so that I couldn't risk the budget for the rest of this month over some bites of what-so-called yummy waffle. Then she offered a help to lend me some money, yes I agreed then.
Finally, we ended up in a front corner of the elegant, retro, trendy, jazzy, cozy, naturalist cafe, which unfortunately I forgot its name.
time flies so fast when you sit there
She directly ordered ice cream waffle vanilla and strawberry flavour. The waiter, which is also the owner of the cafe, we realized it because of his face sticker sticked on the cover of the menu, it is so neat!, said " 여덟 " means eight minutes to wait for the waffle.
Yes, we waited for no waste. In fact, it was a heavenly waffle that we waited for  여덟  . Due to its tantalizing appearance, we grabbed our camera to shoot its perfect shape. Here is one of our most memorable waffle we ever eat...
left angle
right angle
my name is Heavenly Waffle

just like heaven
After taking some pictures of it, we passionately grabbed the fork and stabbed the waffle and hopped it into our wildly drooling mouth. WOW! It was just like heaven. We looked at each other and laughed. We grabbed some of it over and over again while laughing. We ridiculously knew what we laugh about, it was just too perfect not to have a big laugh. It simply showed that we really do adore this waffle. Gosh! We enjoyed every little bite of it. We were truly blessed this afternoon. We were overwhelmed with gratitude and bliss. Subhanalloh, Alhamdulillah, Laailaahaillalloh, Allohuakbar.
And after finishing our last bite of Heavenly Waffle, she came to the cashier that was again the owner of the cafe. He indeed has multitalents. Another good thing about this cafe was he could speak "Selamat pagi, selamat siang". Wow! Isn't that awesome? My friend who happens to be able to speak Korean well, asked him how he knew Bahasa. He said that back then he had had an Indonesian chingu and they were pretty close. Atta boy! Not only he is good looking but also multitalented as well as is able to speak a little Bahasa.
Then when we left and said goodbye, he again spoke Bahasa "Selamat malam". So adorable he is.
In brief, this cafe is highly recommended if one day you have a chance to go to Cheongju. And would you mind telling me if you decided to hang out in this cafe? For I do not mind escorting you go there and having some free-charged heavenly waffle :).

-17 DC dan Salju

0 komentar
Winter memang bikin depresi. Gimana nggak, suhunya aja nyampe -17, maaannn! Allohuakbar... sampai ada yang namanya winter blues atau SAD: seasonal affective disorder. Gejala-gejalanya sebagai berikut:

  • Bad mood
  • Kurang energi
  • Gampang marah
  • Gampang naik berat badan alias jadi gendut
  • Males bersosialisasi
  • Bertambahnya jam tidur alias hibernasi 
Pantesan belakangan sering bad mood, banyak makan dan tidur ternyata kena sindrom SAD. Tapi every cloud has a silver lining, kan?! -17 yang dibarengi pemandangan indah ini hanya ada di winter...
















Angklung

0 komentar
Angklung. Orang sunda mana sih yang nggak kenal angklung. Kalau ada yang nggak tau angklung itu apa, berarti perlu dipertanyakan keabsahannya sebagai orang sunda. hehe. Yang penting tau dulu deh kalo angklung itu adalah alat musik aseli dari tanah Sunda yang terbuat dari bambu yang bunyinya merdu mendayu dayu. 
Aku sendiri adalah orang Sunda, Mojang Bandung. Yang dari TK belum pernah sekalipun main angklung, megang-megang sih pernah tapi kapannya lupa ya. Di SD ketika ada acara pekan seni atau acara perpisahan anak kelas 6, aku selalu dapat bagian menari jaipong. Jadi jangan salahin kalo aku tidak pernah main angklung. 
Masuk masa SMP, SMA aku sama sekali tidak mengenal kurikuler berbau musik. Ma'lum aku masuk pesantren, di Tsanawiyyah dan Mu'allimin Persatuan Islam no 110 Manba'ul Huda, para santri nggak dikenalin kepada hal yang berbau seni. Musik paling nasyid, walau aku lebih sering dengerin lagunya Westlife ketimbang Raihan. hihi. Niatnya kan bagus buat belajar bahasa Inggris. Yay! What a feasible excuse! Musik aja nggak diajarin apalagi alat musiknya. 
Oh aku ingat, pernah sekali waktu aku pesantren di Babussalam yang hanya makan waktu setahun, setelah itu aku pindah karena ada masalah yang mendesakku harus hengkang dari sekolah itu. Dulu aku pernah main suling, lagu yang diajarkan lagu Sabilulungan, lagu yang waktu SD aku ingat dipakai sebagai backsound untuk Pencak Silat. Marvellous! Jadi begitulah, Suling dan tari Jaipong adalah satu-satunya eh dua-duanya hal berbau kesenian yang pernah aku geluti.
Lalu beranjak ke masa kuliah S1 di departemen Pendidikan Bahasa Inggris UPI aku pernah berniat sekali masuk himpunan kesenian KABUMI UPI. Dengar-dengar himpunan seni ini sering keluar negeri untuk memperkenalkan kesenian dan budaya Indonesia. Jadi selain menyalurkan jiwa seni yang tidak tersalurkan ini, kelebihan lainnya adalah jalan-jalan keluar negeri gratis. Neat!
Sayang, aku segera menyadari kalau mengikuti himpunan tersebut ada hal yang harus aku tunjukkan pada dunia publik yaitu lekak lekuk tubuh dan wajah yang selalu terpoles make up. Aku cuma takut dibilang tabarruj (bersolek berlebihan). Akhirnya aku urungkan niatku.
Dan kini aku disini, di Korea menemani suamiku. Menjadi ibu rumah tangga, mencoba berexperimen masakan-masakan baru, mencuci, menjemur, menyapu, mengepel, membaca, menulis blog, belajar bahasa Korea dll. Suatu ketika teman-teman suamiku mengajakku menjadi bagian dari performer di acara Culture Fair di kampus mereka dan suamiku. Kami berencana menampilkan permainan angklung. Kami menyuguhkan lagu Gundul-gundul Pacul dan lagu anak-anak Korea berjudul Gom Se Mari. Kami juga menyuguhkan masakan Indonesia terdiri dari Sate, Mie Goreng Jawa, Risoles dan Sekoteng.
Ternyata takdir mempersatukan aku dengan angklung malah jauuuuhhh dari ranah Sunda yaitu di Korea Selatan. Begitu lah takdir, misterius dan penuh kejutan.
Pasukan Angklung

Kuliner Indonesia

Ied Adha 1432 H

1 komentar
Waktu menunjukkan pukul 5.00 pagi bagian Korea Selatan, tepatnya di wilayah Cheongju, Chungcheongbuk-do. Aku bergegas bangun sambil masih terkantuk-kantuk. Langsung mandi, bangunin dia, sambil nunggu dia mandi aku masak-masak untuk sarapan, ada goreng ubi, nasi dan lauk pauknya. Juga jus jeruk. Lalu kami sholat subuh berjamaah sekitar pukul 5.30, karena itu lah waktu masuk fajar untuk wilayah Cheongju. Setelah itu kami sarapan sambil santai sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5.55. Akhirnya dengan nekat kami tetap pergi walau kami tahu nampaknya sulit untuk mengejar bis pertama yang pergi tepat pukul 6.25. Tepat pukul 6.00 kami keluar kontrakan. Berjalan sambil lari, seperti atlet jalan cepat, *sighing, panting. Hah heh hoh aku dibuatnya, ternyata jarak dari kontrakan ke halte bis lamanya sekitar 20 menit. Yah alhamdulillah kami sampai di halte 5 menit sebelum bis datang. Di dalam bis 2 teman kami sudah menunggu.
Selama perjalanan, embun menutupi seluruh kaca bis. Aku makin dibuat ngantuk jadinya. Tak terasa satu jam berlalu dan bis mengantarkan kami ke tempat bernama Daejon. Kami sampai di tempat tujuan kami untuk sholat Ied Adha yakni di KAIST.
Disambut Soang eh Angsa
Kami langsung menuju tempat sholat. Ehem..bayanganku akan sholat dilapangan yang penuh dengan sajadah yang berwarna-warni nan indah seperti di Bandung, namun imajinasiku tersebut tergantikan oleh pemandangan lapangan badminton yang dihiasi bapa-bapa dan adek-adek yang main badminton. Mereka main seruuuuu banget sampai tidak ngeh kalau kami di kursi penonton bukan lah menonton mereka melainkan menanti mereka nyingkah alias pergi dari lapangan secepatnya dan memberikan kami kesempatan untuk ibadah sunnat yang satu tahun sekali ini.
Atosan heula ah, emang na bade uih!
Alhamdulillah, setelah sekitar 20 menit menunggu, kami bersiap-siap sholat ied. Diawali dengan Takbir:
Allahu akbar Allohu akbar Allohu akbar
Laailaahaillallohu wallohu akbar 
Allohu akbar walillahilham
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa
wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa
Laa ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin walau karihal kaafiruun, walau karihal munafiqun, walau karihal musyrikun. Laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, wa a'azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.
Ini kali pertama dalam hidupku sholat ied Adha, menghabiskan hari raya, tanpa ibu bapa dan keluargaku di dekatku. Kini aku berada di tengah muslim dan muslimah dari beberapa negara lain, seperti Pakistan, Filipina dan Bangladesh.
Selesai sholat ied kami lalu menuju gedung lain untuk menyantap makanan. Kami disuguhi nasi kuning ala timur tengah, nggak tau apa namanya. Rasa kunyitna sangat terasa, potongan dagingnya empuk, kacang polong dan jagung manisnya juga enak, namun sayang nasinya bercampur beras alias belum matang.
Di bawah pohon merah
Setelah makan, kami berunding akan langsung pulang atau pergi ke tujuan selanjutnya untuk menyantap sate gratis di Mushola Annur. Kami sepakat untuk mengambil kesempatan langka ini, sate gratis gitu loks..
Kami menuju Mushola Annur dengan bis selama sekitar 40 menit. Setibanya disana waktu menunjukkan pukul 11.00. Namun sate mentah masih buanyakkk. Kami dengan sabar dan manis menunggu para bapak-bapak mengipasi sate yang nampaknya sih tidak kegerahan. Oh salah itu cara menyate, dikipasin, dibakar diatas arang. 
Cup cup cup, cepat mateng ya sateku sayang!
Tik tok tik tok. The clock is ticking. The time is flying. Sampai waktunya sholat Dzuhur, si sate belum juga beres bibakar. Cacing di perut kami mulai gelisah seperti majikannya.
Resah dan gelisah, menunggu disini...
Waktu menunjukkan pukul 13.30 setelah selesai solat Dzuhur berjamaah, para bapa langsung duduk melingkar dan mengadakan sebuah forum yang membuat para cacing kami berdemo makin hebat. Forum itu membicarakan tentang kebijakan pemerintah tentang para TKI kita, ya things like that lah. Aku sudah tidak bisa mendengar dengan jelas lagi karena mataku yang agak kunang-kunang seperti melihat kambing, ayam dan sapi yang montok-montok tepat di depan mukaku.
Oh ternyata itu sate, iya kan?!
Para bapa masih bercuap-cuap tentang entah apa, dengan muka pengen a.k.a mupeng kami memperhatikan sate seperti melihat Afgan Syah Reza sedang menyanyikan lagu Bawalah Pergi Cintaku di atas panggung. Lalu tiba-tiba saja ada laki-laki yang memperhatikan kami, kalau tidak salah dia yang juga ikut membakar si sate. Ia mengijinkan kami untuk mengambil satu piring dan mempersilahkan kami juga untuk langsung makan.
Yippieee, at last after all these torturing hours waiting for satay, we ate them greedily. *grin :D
Setelah itu kami SMP (Sudah Makan Pulang), pamit pulang kepada teman-teman muslim setanah air, berterima kasih dan dadah dadah. 
Kami lalu bertolak ke terminal bis naik taksi, gaya, padahal kami tidak tahu kalau jaraknya ternyata dekat. 
Kami lalu membeli tiket dan ketika waktunya tiba bis kami datang kami naik dan waktunya tidur lagi di bis.
Tiket bis dari Daejon ke Cheongju
Praise be to Alloh The Al Mighty, ied Adha tahun ini indah dan berkesan. Seindah jalanan yang terselimuti daun berguguran.
Sesyahdu hari rayaMu
Pintaku ya Alloh, agar aku, kami bisa menjadi hambaMu yang patuh laiknya Nabi Ibrahim as yang taat pada ta'wil mimpiMu dan Nabi Ismail yang taat pada perintah ayahnya.
Agar Ied Adha tahun depan Kau masih pertemukan kami, dan kami mampu memenuhi janji kami untuk berkurban. Berkurban dari harta yang telah Kau anugerahkan pada kami. Mudahkanlah hati kami, semudah jika kami membelanjakan harta itu untuk kepentingan dan kesenangan kami semata.
Perkenankanlah ya Alloh ya Mujibuddu'aa...

Jadi Dae Janggeum 30 Menit

1 komentar
Dae Janggeum atau juga dikenal Jewel in the Palace adalah serial drama tahun 2003 yang diproduksi oleh saluran TV MBC Korea Selatan.
Ceritanya didasarkan pada tokoh sejarah yang diceritakan dalam Catatan Sejarah Dinasti Joseon, yang berpusat pada Jang-geum (diperankan oleh Lee Young-Ae), dokter kerajaan perempuan pertama dari Dinasti Joseon di Korea. Tema utamanya adalah kegigihiannya, serta gambaran tentang budaya Korea yang tradisional, termasuk makanan serta obat-obatan istana kerajaan Korea. http://id.wikipedia.org/wiki/Dae_Jang_Geum
Dulu, waktu jamannya si drama Janggeum ini happening, aku mencoba berkali-kali menontonnya hanya ingin merasakan sensasi kehebohan, keramaian, kesenangan dan kekaguman yang terjadi pada kebanyakan orang. Tapi berkali-kali aku nonton,gagal terus. Aku tidak merasakan rasa suka yang membuncah seperti teman-teman pecinta drama Korea lainnya, terutama bibiku, bi Lanny Sehrofi beserta ibu dan kakaknya bi Gilang. Haduh, puyeng juga maksain diri supaya kaya orang lain. Satu-satunya drama Korea yang aku suka cuma My Girl, nggak ada yang lain. Akhirnya aku berhenti berusaha menyamakan kesukaan dengan orang lain kebanyakan, aku ingat petuah sunda yang bagus "tong kabawa ku sakaba-kaba" artinya "jangan suka terbawa arus"
Namun, hari itu, kemarin hari Selasa 2 November 2011 di Bokdae (i) Dong, merupakan salah satu hari yang akan susah aku lupakan. Beserta sahabatku di Cheongju, mba Shinta, teman kecilku Api, dan adik kecilku yang lucu Queen, kami berniat jalan-jalan untuk refreshing, aku memang niat akan kembali ke Butik Hanbok yang waktu itu sempat tertunda. Tas ransel berisi dua botol minuman kosong 2 literan aku simpan di dalamny agar pulangnya bisa melewati kran-kran air minum gratis.
Tidak lupa aku bawa kamera, kalau-kalau nanti ada moment bahagia yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Setibanya di Butik Hanbok itu, aku tanya kepada pegawainya tentang keberadaan Miss Sim, seorang pegawai yang bisa berbahasa Inggris yang waktu itu aku janjikan akan kembali ke Butik itu jika ada pesanan Hanbok dari teman-temanku di Indonesia. Namun Miss Sim sedang tidak bekerja, aku tidak tahu kenapa, orang dia jawab pakai Hangul, ya mana ngerti diriku.
Aku lalu minta ijin untuk mengambil beberapa gambar Hanbok, ternyata diperbolehkan. Lalu iseng-iseng dengan bahasa Tarzan, kami minta ijin untuk mencoba Hanbok. Tidak disangka mereka memperbolehkan. Kami yang kalap dari tadi karena melihat "lautan" Hanbok, jadi kegirangan sangat bak anak kecil dapat balon. Aku mendapat giliran pertama mencoba. Salah seorang karyawannya memilihkan Hanbok yang berwarna senada dengan kerudung yang aku kenakan. Lalu aku memperhatikan tiap helai bahan yang disematkan di badanku. Kini aku mengeri kenapa bagian bawahnya bisa begitu mengmbang bak balon. Nanti semoga aku bisa buat sendiri yang sebagus Hanbok asli buatan orang Korea ini. 
Hanbok wanita ternyata terdiri dari:
  1. pakaian dalamnya long dress kain putih bahan biasa, sepertinya katun
  2. pakaian lapis kedua yang berwarna dan jenis kain bisa berbeda-beda ada sutra, satin, dll. bentuknya kemben dengan tali yang diikatkan ke atas dada, talinya dipitakan seperti bow tie
  3. rompi lengan panjang atau pendek, lalu ditalikan pita yang menempel di bagian dada kanan sampai salah satu pitanya menjuntai
  4. sepatu Kko Ssin, tradisional korea
Ketika aku bercermin, wow! I was exquisitely elegant, charming and incredible (memujidirisnediri.com), so was mba Shinta.
Langsung berasa jadi Dae Janggeum selama 30 menit.

Video Girl

0 komentar
Video girl rocked my world for a whole two secondsAnd now I know I'm not about to be another victimGet out of my face, get out of my spaceGet some class and kiss the past'Cause I'm not about to be another victimOf the video girl syndrome- Video Girl by Jonas Brothers
No, i'm not going to tell you about my admiration of JB, nor my craziness over their appearance, voice, and performance on the stage. i merely want to tell you that we have to (better be said Must) extend our gratitude to those who invented computer and the thing what-so-called internet. Since you are now able to be lying on your warm and convenient electric mattress during one freaking cold day and be awaken by the sound of video call from the ones you desperately love far far far away in the country you actually was born and grown up.It was like a dream, wonderful dream in a sound nap. All the fears, anxiety, disappointment were swept away by the huge overwhelmed wave of bliss. Finally, after all these days (2 months) you can see your ones' beloved faces through web cam, a video call.It was too short to catch up about anything felt, experienced, thought by each other. Still time must go on, you proceed your life here in a pretty long distance from them.At least, you talk and see them. you badly long for their caress, embrace, kiss, advice, jokes, laugh, smile, voice, etc. Yeah, video call has successfully lifted your burden of missing them too much.Let's video call again some other time...  

Meeting The Boss and The Geng

0 komentar
It was two days after our marriage held in Bandung, a beautiful Tuesday I would spend with a special man I just married. Our plan that day was visiting his work place in order to fulfill the welcome-back-home-party with his best buddies from a training program for civil servants-to-be held precisely a year and half ago. Absolutely, we haven't met that time. Besides, he has a responsibility to take care all the things have to do with administration stuff of being a civil servant (kinds of archive that must be filled out, one of them is an archive of wife back up allowance).
We went there by his historical motor bike. It was the very first time for me to ride a motor bike with a guy very closely and tightly, even I tied up my hands over his hips ^^. It took us around an hour to be there, quite a trip I guess since it was undergone by motor bike that's always able to run as fast as it can and it can cut in whenever and wherever there is a probability.
In the campus, we headed directly to Rector office to meet one of the staff, named Pa Ahmadi, who had helped my husband taking care of things related to the admission to the university he attends now. When we came in to the office, another staff told us that he was away for a while. That caused us to get to other building adn rooms in order that we could meet my husband's colleagues to greet and say goodbye before leaving Indonesia for Korea.
After going around and saying hi as well as goodbye, we went back to the office of Rector to accomplish our mission to meet Pa Ahmadi. Finally, he was there in the office. Then my husband chatted with him quite long time. My husband's fellas called his cell phone several times. I had to pick it up and answer it. "Will you two be here sooner?" "We're really sorry, we'll be there any minutes." Then it was still the following minutes they conversed even more closely.
Then it came to the moment that my husband and I never imagined that the Rector would like to meet us. There we were in his wide, elegant room. He asked a couple questions regarding my husband's experience studying here in Korea. My husband did not forget to give the souvenir for him both from Korea (Ginseng tea) and Russia (a bar of chocolate).
After around 45 minutes, we excused ourselves to him since we thought my husband's friends had waited too long. As always, we had a picture taken together with special person like him. here it is:
*Mr. Komarudin Hidayat, the Rector a.k.a my husband's boss

Afterwards, we headed to a Bakso restaurant, named Bakso Atom near the campus to meet my husband's chums, the geng. it was so fun knowing them. They're pretty cool, out going, friendly, and chatter box ;p. I like them. And here they are:
*the geng: from left ~ bang Naif, my hubby, me, (forgot his name, sorry :), mba Tia, bu Maya

Kami dan Swarovski Korea

0 komentar
Hari Minggu kemarin tanggal 9 Oktober 2011 merupakan salah satu hari yang berkesan dan tidak akan aku dan sumaiku lupakan. Seba'da ashar kami lalu bertolak ke halte bus menuju Lotte Young Plaza, super market bergengsi asli milik Korea. Ngomong-ngomong dikit tentang Lotte Mart, aku jadi ingat Lotte Mart dekat rumahku di Bandung, sebelahnya Rumah Sakit Al-Islam, jalan Soekarno-Hatta, ternyata itu frechcise nya Lotte Mart asli Korea. Hanya bedanya Lotte Mart di Indonesia sifatnya whole sale atau grosir sedangkan di Korea sendiri merupakan Department Store juga super market. Malah Lotte memproduksi jenis-jenis makanan sendiri seperti snack atau makanan ringan. Malah usut punya usut, kawan ingat nggak permen karet merek Lotte jaman duluuuuuu banget (yang masa kanak-kanaknya sekitar tahun 90an awal biasanya tau deh...) nah itu katanya awal perusahaan Lotte memproduksi permen karet. Keren kan sekarang mereka jadi raksasa department store di negerinya sendiri. salut lah buat Han-guk!!

 


Kembali ke niat kami ke Lotte Young Plaza ialah untuk memenuhi undangan Top Directornya dalam rangka menyampaikan print out kisah dan pengalaman suami ku membeli perhiasan di toko perhiasan Swarovski sebagai maharku waktu itu. kisah itu ternyata menarik perhatian Mr. Hyun sang Top Director Lotte Young Plaza, yang sekarang berposisi sebagai Top Leader seluruh Lotte Mart di Korea, untuk diterjemahkan ke dalam Hangul atau bahasa Korea. Saat berusaha membeli seperangkat perhiasan, suamiku terhambat masalah bahasa Korea. para sales kurang paham perkataan suamiku dalam bahasa Inggris. lalu muncullah Mr. Hyun sang Top Director terjun langsung membantu customer Swarovski.
Saat kami tiba di toko Swarovski, seorang wanita muda berambut pendek, berwajah ceria, tersenyum menyambut kami "Hello, I'm the translator." lalu diikuti oleh seorang lelaki berjas hitam bermata sipit sangat Korea (sampai sekarang kami tidak tahu posisi dia apa,hehe)
Kami lalu diajak bergabung dengan seorang wanita berkulit mulus dengan rambut diikat kuda, menyambut kami. kami cuma bisa menyapa "Annyong haseo..." wanita itu ternyata Top Director yang menggantikan posisi Mr. Hyun. Ia memperkerjakan seorang penterjemah karena tidak bisa berbahasa Inggris. Ketika kami sudah dipersilahkan duduk, datang seorang wanita memakai kacamata, dengan rambut kuncir kuda, dengan lipstik berwarna peach. Ternyata di adalah penulis kisah kami dalam Hangul atau Bahasa Korea. Ia tidak bicaara bahasa Inggris. Kami lalu memulai perbincangan kami dengan menyerahkan manuskrip kisah suamiku,  perjuangannya membeli perhiasan Swarovski sebagai maharku.
Singkat cerita, tiga wanita yang menyimak kisah kami tersebut terenyuh, tersentuh, takjub, terkesima, terpesona, dan terpikat cerita perjalanan cinta kami. Malah salah seorang dari mereka berkata bahwa kisah cinta kami seperti di dalam drama. Kami jadi tersipu malu ^^
selepas bercerita kesana-kemari panjang lebar, kami lalu diajak ke toko Swarovski untuk memperbaiki gelang ku yang mata kristalnya hilang, begitu juga dengan cincin, dua mata kristalnya hilang juga. Lalu Katie, sang penterjemah, mengurusi semua hal termasuk pengisian service form. She's totally kind. Katanya dia akan menghubungiku jika semuanya telah selesai, sekitar tanggal 24 Oktober ini. Oh iya, dia juga memberikanku kartu namanya katanya agar ada yang bisa diajak komunikasi. Perhatian sekali ya, padahal kami benar-benar belum kenal sebelumnya. She might put her self on my shoes. Sangat empati, tinggal syahadat aja deh (amiinnn)
Ketika kami hendak undur diri, lelaki yang kami tidak tau posisi dan namanya mengajak kami ikut bergabung makan malam dengan mereka. tapi dengan hati-hati kami menolak karena pertimbangan makanan yang tidak halal kami makan (seperti daging yang disembelih bukan atas nama Alloh, daging babi, dan juga minuman Soju atau beralkohol. Konon orang Korea paling suka minum Soju, kaya orang Indonesia minum teh atau kopi,hihhhhh) selain pertimabangan waktu solat maghrib yang sudah sangat mepet. Akhirnya kami pamit. "Annyogi geseyoo..."
Sebelum pulang ke kontrakan, kami memutuskan untuk solat maghrib di ujung gedung super market Home Plus, di tangga paling bawah terdapat kardus-kardus bekas. Kardus itu kami jadikan sajadah. Terima kasih ya Alloh atas hari yang indah lagi...
  *left to right: Katie Lim (the translator), me, the writer of the stry, and the top director of Lotte Young Plaza, Korea.

Menu Syukuran

0 komentar
Waktu itu Sabtu pagi tanggal 24 September 2011 aku dan suamiku mempersiapkan syukuran pernikahan kami yang alhamdulillah telah lancar terlaksana pada hari Minggu tanggal 11 September 2011 atau yang biasa kami singkat dengan 11911. kata beberapa orang sekalian memperingati runtuhnya WTC di New York, Amerika Serikat. yah boleh lah,atur ajah :p yang pasti kami perlu, harus, wajib bin kudu bersyukur salah satu ekspresinya dengan mengadakan syukuran, makan-makan di kontrakan kami ini. kami memutuskan untuk makan di kontrakan dengan menyuguhkan makanan yang kami (baca: suamiku, secara lebih banyak resep dan ide dari dia ^^) dengan alasan makanan di restoran sini (baca: Cheongju Korea Selatan) tidak terjamin kehalalannya. Alhasil kami bermasak-masak ria ala chef Farah Quinn dan chef Bara di dapur kami tercinta. ini dia menunya, cekidot:
special thanks to Adin, tetangga kita yang baik hati, pintar, ramah dan rajin menabung, karena sudah mengabadikan menu syukuran kami lalu mentagnya di Facebook. hatur nuhunnya geulis ^_*

my first visit to wawa's dorm

0 komentar
Today is my and my mom first time visiting my younger bro, wawa, who lives in a dorm of PERSIS Islamic boarding school Tarogong. before we left, we bought some wawa's favourite snacks. one of them was Basreng; stands for Baso Goreng.we took a bus there and it took around an hour and a half. when we got there, we went directly to the classroom where he might belong to; Tsanawiyyah grade one. but there were only female students chatting. one of them told us that the male students were praying in the mosque. we couldn't wait any longer, we missed him too much ;)
then we headed to the mosque where every male student got out from. we searched him carefully, tried to present him a little surprise of our presence.
when we were looking for him, my mom's gaze spotted on a particular chubby yet handsome teenage boy wearing a broken white shirt along with dark brown trousers. he was putting on his shoes. yes it was him, he was staring at us too. he smiled and waved at us. soon he approached us, we really wished we could hug him, but as we know, he was too 'jaim' to do that; a boyyyy ;p

at the moment i saw him and talked to him, there was something trembling choked in my throat, then i realized i was about to burst into tears to witness that my sweet spoiled little brother was very tough starting his new leaf in pesantren. at the same time, i felt very proud of him, very even beyond.