Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Helping Angels

0 komentar
My life has always been filled with joys but somehow I sometimes find it difficult settling down and getting rid of the boredom. It is six months since I got married, being a housewife, taking care of my husband, managing our finance, managing the house, running some errands, and for entertaining myself I downloaded many movies including a very long episode of Desperate Housewives
just can't stop watchin it! 
In last few weeks, I have felt my life was a bit rough. I just could not stand listening to his whining about how hard it was to go through the monetary crisis that happens to us lately. It seems that I am a burden. I am desperate literally. I keep asking myself the following questions, would it be better if I go back to my home country and let him face the predicament all by himself? I have been listening to his story in coping with the tough time in lab, in lectures, in writing a paper. Can I just walk away and pretend that I do not take his venting into consideration? Will I do that even he himself asks me to do so? Will I be strong to be apart from him? 
In a blizzard of confusion deciding what to choose, staying or leaving, I happened to chat with my lil siter. It was yesterday when I finally told her all my feelings and thoughts about being lonely all day long so that I wish to call it a day and go home for a little while. On the other hand, I can't help thinking what I would do if I am away from him while no one is taking care of him; making his fave meals or snacks, rubbing his back while feeling pain, serving a hot cup of tea while having a flatulence and many of others.
This deep yet humble discussion made me realize that she would support whatever my decision would be; going home with all consequences or hanging on my recent circumstance with all its conqesuences also. Then we came to a final conclusion that it would be way too complicated if I were away from him, since he is now my home whereas as Sponge Bob said there is no place like home.
What a such relieving result that finally came up to my mind. And it always Alloh sends me a helping angel; this time transformed as my sister.
The following night, while waiting for him to come home, it occured to me that I had a quite long conversation with a college buddy whom I actually had never talked to then but considering about some assignment we had had that time. She initiated the talk asking about the job I had before getting married. Afterwards, we exchanged information about it. Until I happened to compliment her achievement of graduating from Master Degree. Unexpectedly, she did not take it as a compliment but rather she started to sound envious about me and those who had a working experience compared to her unexperience in working at any institutions nor companies. 
Immediately, she talked about her anxiety (read Galauness) about it and her strong feeling about marriage. She wished that she would find a job and a man to marry too in no time. She said she always had feeling of restlessness thinking about her problems. I tried to comfort her by saying that everyone and  I had the exact experience facing the crisis time. I then shared the way I overcome it by having a distracted activities such as doing hobbies; knitting, movie watching, excercising, taking care a pet and so on. Until one day when I was contented doing those activities, Alloh decided that it was the time for me to move on to the next level in my life, which is a marriage. 
In a few seconds later, I was fully aware that my recent anxiety about staying or going back to my home country, or about the financial crisis, or my regret of having not taken a Master Degree, is not worth whining at all. I now realize that there are many of my friends are not yet married, nor worked, nor even had a chance to go abroad accompanying a spouse. Once again, Alloh has always sent me a helping angel; now is transformed as an old friend.
So, no matter how hard this life you face, remember that a helping angel sent to you anywhere, what you have to do is take a close and good look in order to find your helping angel.

Jangan Menyerah!!!

0 komentar
Jika di belahan bumi sana ada seorang tuna wisma yang meregang nyawa karena Hipotermia, disini aku hanya berjibaku dengan air yang membeku.
Jadi, jangan menyerah! Pakailah sarung tangan plastik dan mulailah mencuci piring dan baju dengannya.
Jika di seberang sana ada seorang ibu tua yang merawat suami dan keempat anaknya yang lumpuh, aku disini hanya berteman sepi dan dingin -18 derajat celcius.
Jadi, jangan menyerah! Hiburlah hati yang sunyi dengan Qur'an, bacalah buku rohani, belajarlah bahasa asing, sapalah teman di dunia maya dan masih banyak lagi.
Jika di sebuah ibu kota besar dari negara berkembang ada seorang tukang sampah yang hidup serba kekurangan yang kesehatan dan keselamatannya tergadaikan, disini aku hanya mengalamii kulit kekeringan, memerah dan gatal serta bibir pecah-pecah. 
Jadi, jangan menyerah! aku cuma harus rajin memakai lotion pelembab dan banyak minum air putih.
Jika di negara yang sebagian besar para Nabi dan Rasul diutus disana ada seorang anak yang merindu belai kasih ibunda yang syahid ditembak timah panas zionis, aku disini hanya merindu wajah, suara dan pelukan ibu yang terpisah karena jarak berpijak saja. 
Maka, jangan menyerah! Doakan selalu orangtua ku maka aku adalah sahabat sejati dimanapun mereka berada.
Mari jangan pernah menyerah! Apalagi putus asa. Karena hanya orang kafir saja yang putus asa dari rahmat Allah SWT. 

Pelajaran Hari Ini

0 komentar
‎"Tak ada yang bisa mengubah takdir selain doa. Tak ada yang memanjangkan usia kecuali perbuatan baik. Sesungguhnya seseorang terhalang mendapatkan rizqi karena dosa yang dilakukannya."
(HR Ibnu Hibban & Al-Hakim)

Mari Jauhi Bid'ah Juga Zina

0 komentar
Albid'atu dlolaalatun, addlolaalatun finnaarr.
Setiap perkara yang diada-adakan (ditambah-tambahi dalam ibadah) itu dosa, setiap perbuatan dosa (balasannya) neraka. Alhadist
Na'udzubillahimindzalik, semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk bisa melihat dengan MataNya, mendengar dengan TelingaNya dan merasa dengan HatiNya.
Banyak perbuatan yang sepertinya ibadah ternyata merupakan perbuatan yang hanya diada-adakan atau ditambah-tambahi oleh kita. Dari mana kita menemukan perbuatan tersebut? Dari nenek moyang, sudah tradisi. Masa kita tidak mengadakan tahlilan untuk saudara kita yang meninggal? Dari mana asal tahlilan yang kita tiru? Ternyata hanya tradisi turun temurun dari nenek moyang, karena Rasulullah SAW, teladan kita satu-satunya, tidak mencontohkan hal yang demikian. Sebenarnya masih banyak contoh perbuatan bid'ah yang lain, seperti membaca surat Yasin tiap malam Jum'at (sekali lagi Rasul tidak pernah mencontohkan apalagi menyunahkan), merayakan kehamilan per periodik misalnya 40 bulanan, dll. 
Menjauhi perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Rasul saja sangat penting kita camkan dalam diri kita apalagi dalam hal menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah secara jelas, yaitu menjauhi zina.
Zina di jaman ini sangatlah mengerikan. Sudah tak terhitung bayi terlahir tanpa identitas orangtua yang jelas, atau sekalinya orangtua bayi tersebut bisa diidentifikasi ternyata masih usia sekolah SMA atau malah yang lebih mengenaskan melahirkan di luar nikah terjadi pada anak SMP. Saya sempat menyaksikan hal yang sangat sangat menyedihkan ini dengan mata kepala sendiri. Yang membuat hati ini nelangsa ialah anak sekecil itu berada pada masa transisi, baru akan mengenal mana yang baik dan buruk, benar dan salah, belum ajeg dalam pendirian, belum bisa menentukan dengan siapa bergaul, masih sangat kekanakan, karena transisi dari masa kanak-kanak di SD yang senang bermain. Saya melihat anak SMP yang mengalaminya nampak acuh tak acuh, cuek bebek dengan bayinya yang baru lahir yang akhirnya terpaksa harus dirawat oleh sang tante. Ketika sang bayi menangis, ia dengan wajah innocent malah pergi ke tukang baso tahu, membelinya, dan makan dengan lahap sangat menikmati tanpa memikirkan bayinya yang juga kelaparan ingin segera menyusui. Mengerikan anak-anak yang lahir dari para ibu belum matang ini kan? Akan seperti apa negara kita jika para pemuda pemudi dididik oleh mereka? Atau malah mungkin mereka tidak tahu apa arti mendidik? Astaghfirullohaladzim.
Maha benar Allah dengan segala FirmanNya yang menyebutkan di dalam Quran surat Al-Isra ayat 32:
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."
Mendekatinya saja sudah dilarang keras, apalagi sampai melakukannya. Hanya taubatan nashuha atau taubat yang sungguh-sungguh dan maghfiroh Allah saja yang bisa mengampuni dosa zina. Kenapa mendekatinya dilarang? Karena zina (baca: melakukan hubungan intim suami istri) tidak akan langsung terakumulasi kecuali diawali dengan jalan berdua-duaan, makan dan main berduaan di tempat sepi, berfoto bedua-duaan, berpegangan tangan, sekedar cium kening dan pipi, merangkul pinggang, dan seterusnya yang jauh lebih mendekati puncaknya zina. Jangan sangka anak SMP apalagi SMA yang melakukan pacaran seperti itu adalah anak-anak polos seperti jaman orang tua kita mengenal pasangannya, sekedar berkirim surat, menitipkan salam, saling sekedar curi-curi pandang di keramaian, tak berani mereka menunjukkan kasih sayang yang menyimpang yang ditandai dengan saling berpelukan, bergandengan tangan erat, apalagi mencium pipi sang kekasih. Bandingkan dengan ABG-ABG jaman sekarang, mereka berani mendekati zina di depan umum, di depan kedua orang tua mereka,malah di tempat-tempat sakral seperti masjid. Ampunilah dosa-dosa kami ya Al-Afuw...
Yang saya ceritakan di atas ternyata berlaku bagi siapa dan dari kalangan mana saja, muda-mudi yang datang dari keluarga terpelajar apalagi tidak terpelajar, miskin atau kaya, populer atau tidak dikenal sama sekali, pejabat atau rakyat biasa, dst. Yang lebih membuat saya mengelus dada, bahkan dari kalangan agamis pun jeratan zina tidak akan pernah bisa lepas jika pengawasan orang tua sangatlah longgar dan permisif kepada putra putrinya yang menjalankan praktek pacaran masa kini yang mendekati zina. Putra putri dari orangtua agamis ini masih usia sekolah, berpacaran dengan alasan ta'aruf (padahal nikahnya masih sangaaaattt lama), mengenal lawan jenis, hanya teman dekat (atau teman tapi mesra) diawali dengan hanya sekedar sms an, lalu janjian bertemu, awalnya jalan-jalan bareng teman yang lain, lalu mulai berani jalan hanya berdua, berani naik motor bersama, makan di luar bersama, lalu mulai berani sekedar berpegangan tangan, cium pipi.. nggak sanggup ah ngelanjutinnya. Pantas saja dulu saya pernah ditanya sama seorang lelaki tentang apakah saya pernah berpacaran? Pacaran yang dimaksud ya seperti diatas tadi, berjilbab, mengaku lulusan sekolah agama, tapi kelakuan mengenal lawan jenisnya sama dengan yang tidak mengenal agama. Saya sempat jadi korban generalisasi dari perilaku menyimpang para muda mudi apalagi yang berjilbab dan dari kalangan agamis yang melakukan praktek (maaf jika sangat kasar) mendekati zina. 
Ketika saya perhatikan di jalan, di transportasi umum, di tempat umum, di kampus, ternyata benar berseliweran wanita berjilbab. Namun sangat disayangkan, beberapa dari mereka berpelukan dengan lawan jenis di depan umum, memakai baju kaos ketat, kerudung yang diikat kebelakang sehingga memperlihatkan dadanya dengan jelas, calana legging atau jeans ketat, bergaul dengan lawan jenis sangat akrab (baca: kebablasan). Pantas saja sekarang laki-laki baik pun harus berhati-hati mencari dan memilih wanita yang berjilbab. Jilbab kini bukan indikator kebaikan akhlak seorang muslimah, jilbab hanyalah mode, lagi ngetrend. Maafkan kami ya Kariim...
Lalu apa hubungannya bid'ah dengan zina?? Yang pasti dua-duanya wajib bin kudu (bahasa sunda artinya harus) kita jauhi. Jangan hanya menjauhi bid'ah saja atau zina saja, karena Islam adalah agama yang kaffah atau sempurna mengatur semua aspek kehidupan ummatnya, oleh karena itu perintahnya harus diamalkan secara menyeluruh begitu pula dengan larangannya harus ditinggalkan semua. 
Terkadang kita lebih suka melihat kesalahan orang lain melakukan praktek bid'ah dan menentangnya namun lupa bahwa saudara-saudari, sahabat-sahabat, teman-teman, tetangga atau bahkan kita sendiri sedang asyik masyuk mendekati zina dengan alasan mengenal lawan jenis, atau sekedar pacaran "anak-anak".
Mari jauhi praktek bid'ah dan zina yang mendekati pada api neraka.
Wallohu'allam bishawwab.

Toleransi Beragama = Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku

0 komentar
Natal tahun ini ada beberapa teman muslimku yang mengucapkan 'selamat Natal' pada temannya yang kristiani di jejaring sosial. Ada dua kemungkinan kenapa mereka melakukan hal yang jelas-jelas DILARANG dan DIHARAMKAN oleh satu-satunya uswah hasanah/panutan kita Nabi Muhammad SAW itu; pertama, mungkin mereka tidak tahu hadist mengenai hukum mengucapkan selamat pada agama lain. Kedua, mungkin mereka sudah pernah dengar fatwa MUI tentang hukum mengucapkan selamat natal dan tetap keukeuh dengan pendapatnya tentang toleransi beragama itu berarti saling memuja muji agama, kepercayaan, serta perayaan-perayaan dari agama lain.
Aku jadi tergugah untuk berpendapat juga ah, pendapatku masih sama seperti aku pertama kali mendengar seorang ustad membacakan hadist Rasulullah SAW tentang hukum mengucapkan atau memberi selamat kepada perayaan agama lain:
"Jika seseorang menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk kedalam golongan mereka." Al-hadist.
Secara logika hadist tersebut berarti mengisyaratkan jika kita mengucapkan selamat natal kepada kaum Nasrani seperti yang mereka lakukan kepada sesamanya (seagama Nasrani), lalu kita umat Muslim ikut mengucapkannya, itu sama dengan MENYERUPAI kaum Nasrani kan???
Masa kita rela disamakan dengan mereka yang mempercayai kalau tuhan itu ada tiga, sedang kita bersyahadat bersaksi Laa ilaa haillallah tiada tuhan selain Allah SWT. "Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan Allah adalah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah." Al-Maidah: 73.
Terus kalau waktunya hari perayaan Tahun Baru Imlek Cina, lalu kita umat Islam mengucapkan Gong Xi Fat Cay kepada kaum Tionghoa penganut Kong Hu Chu, berarti kita meyakini bahwa Konfusius nama lain dari Kong Hu Chu adalah seorang nabi. Selain itu dengan tidak langsung menyiratkan kalau kita juga meyakini kebenaran kitab Sishu Wujing.
Lalu bagaimana jika kita mendapatkan ucapan selamat Idul Fitri dari teman kita yang diluar agama Islam? Oh itu bukan urusan kita, karena mungkin tidak ada larangan di agama mereka untuk memberi selamat kepada perayaan agama kita. Yang kita dapat respon dari ucapan selamat mereka mungkin hanya terima kasih sekedar ucapan menghargai perhatian mereka. Lain lagi dengan ucapan salam Assalamu'alaikum dari mereka kepada kita orang Islam. Mengacu pada sabda Nabi Muhammad SAW, wa'alaik adalah jawaban dari kita kepada ucapan salam non muslim.
Begitu indahnya Islam mengatur semua aspek kehidupan kita, jika kita mau menerimanya dengan akal sehat, hati yang bersih dari dzan atau prasangka buruk akan hukum Allah SWT.
"Tidak ada paksaan dalam beragama." Q.S. Al-Baqarah: 256 dengan jelas Allah SWT mempersilahkan manusia dengan sebebas-bebasnya untuk memeluk agama menurut yang ia yakini kebenarannya. Namun setelah kita masuk ke dalam Islam, semua hukum Allah beserta RasulNya berlaku bagi kita, tidak ada penawaran lagi. "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." Q.S.Al-Ahzab: 36.
Nabi SAW juga menitipkan pesan bagi kita pengikutnya, bahwa dengan memegang teguh Quran dan Sunnah kita akan selamat dunia akhirat.
Jadi, apakah mengucapkan selamat kepada perayaan agama lain diluar Islam merupakan toleransi atau malah menyerupai agama tersebut yang secara otomatis kita dianggap sebagai golongan mereka?
Menurut hemat penulis yang ilmunya tidak setitik embun di dedaunan pun, lebih baik kita kembali lagi kepada panduan kita yang menyebutkan lakum dinukum waliyadin ~ Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Q.S. Al-Kafirun: 6.
Itulah toleransi yang sesungghunya, tidak ada paksaan dalam beragama. Menurutku sebagai seorang muslim yang sedang berupaya meraih Ridho Allah Ta'ala, menghargai kebebasan beragama adalah dengan membiarkan orang lain menjalankan agama serta ajaran-ajaran keagamannya dengan tidak menjual keimanan kita dengan harga yang sangat rendah yaitu dengan mengucapkan selamat kepada perayaan-perayaan agama mereka tersebut.
Walluhu'alam bishawwab.

Jagalah izzahmu wahai istri!

0 komentar
Aku sempat merasa tidak suka dilarang mengupload fotoku berpose sendiri di jejaring sosial di internet oleh suamiku. Aku niatnya kan hanya ingin berbagi kabar kepada kerabat, sahabat di tanah air bagaimana keadaanku. Lagian semenjak menikah aku jadi berpikir dua kali jika ingin berdan-dan cantik. Aku bertanya pada diriku sendiri buat siapa wajah cantik yang berpoles make-up ini? Untuk suamiku kan? Untuk yang satu-satunya berhak melihatku tampil menggoda adalah dia, suamiku. Lalu kembali ke perkara foto tadi, sebagai seorang istri tugasku hanyalah mentaati suamiku, karena ia adalah pemimpinku, yang bertanggung jawab akan semua hal yang aku lakukan, bicarakan, dengarkan dan putuskan. Akhirnya sejak saat itu aku putuskan tidak akan lagi memposting fotoku yang tampil sendiri.
Hari-hari berikutnya aku lihat teman wanitaku yang sudah menikah memasang foto manis nan cantik berpoles make-up nya di jejaring sosial itu. Hebat! Yang memberi komentar "cantik" atau memuji bukan hanya teman wanitanya tapi juga para pria yang entah ada hubungan kekerabatan denganny (baca: muhrim) ataukah memang orang lain yang iseng mengecek newsfeed dan gatal ingin mengutarakan kekaguman pada istri orang tersebut.
Aku juga ingat suatu ketika aku hendak menghubungi teman wanitaku yang lain di jejaring itu, tapi ternyata akunnya tidak aktif. Kebetulan ada fasilitas chatting YM yang dia juga aktif disana. Aku tanya perihal kenonaktifannya itu, ia jawab bahwa ia untuk sementara tidak aktif di dunia maya karena banyak hal yang mengganggu hubungannya dengan sang suami, ia tambahkan kalau ia kasihan melihat suaminya. Kasihan karena cemburu barangkali. Tapi sekarang entah kenapa ia mengaktifkan lagi akunnya. Memasang lagi foto-foto manisnya. Yang terakhir aku liat tidak sengaja, ia memasang foto dengan tampilan seluruh lekuk-lekuk tubuhnya yang bahasa sundanya bahenol (sintal), sampai (maaf) dadanya sangat jelas terekspos. Anehnya sang suami memuji fotonya itu dengan mengatakan "cantik". Hmmm suami macam apa ya yang membiarkan badan indah sang istri menjadi konsumsi publik yang mungkin saja dilihat oleh para lelaki bukan muhrim dan akan tergoda dengan pose tersebut. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda kebanyakan wanita penghuni neraka itu karena ia berpakaian tapi telanjang. Berpakaian tapi dapat mengundang syahwat lelaki yang bukan hak nya. Na'udzubillahimindzalik... 
Kini aku mengerti kenapa suamiku melarangku memasang fotoku yang nampang sendiri di depan publik, karena hal tersebut akan mengundang fitnah; pujian-pujian gombal dari laki-laki non muhrim, malah lebih hina lagi mengundang syahwat mereka yang bukan haknya.
Wallahu'allam bishawwab.

JILBAB = Identitas Wanita Muslim

3 komentar
Jilbab itu tanda ketaatan seorang muslimah 
"What is in name?" ujar Shakespeare. Apalah arti sebuah nama? Yang pasti nama itu sangat penting eksistensi dan fungsinya. Tanpa nama sesuatu dan seseorang akan menjadi tak berarti. Sesuatu menjadi mudah dikenali karena namanya. Jika kita ingin menabung uang, misalnya, kita tahu bahwa tempat yang tepat yang akan kita tuju itu bernama Bank bukanlah Restoran. Itu sebabnya nama merupakan identitas awal yang paling penting dan utama dimanapun kita berada. Coba kita ingat-ingat setiap kita mengisi formulir entah formulir masuk sekolah, formulir nasabah baru, atau formulir surat pengantar nikah, kolom pertama selalu diisi dengan nama.
Pun ketika kita belajar bahasa asing, perkenalan atau introduction selalu diajarkan paling awal: Maa ismuka? 당신의 이름은 무엇입니까? Comment t'appelles tu? Wie heißen Sie? Apka shubh nam kya hai? Come ti chiami? Anata no onamae wa? Kak tebya zavut? Namina saha? Siapa nama kamu? What is your name?
Bayangkan jika kita tidak mempunyai nama. Mungkin orang akan memanggil kita dengan "Hey", "Woi", atau mungkin "Cuy", bisa juga "Ciiinnnn".
Selain itu nama juga merupakan jelmaan dari do'a kdua orang tua yang memberikan nama tersebut. Ada hal yang sangat menggelikan tentang nama ketika pamanku melakukan sensus bagian pelosok tanah air kita, ada seseorang yang bernama (maaf) Tai Satumpuk. Semoga saja berita itu hanya guyonan. What a creepy name, right?! 
Lalu apa hubungannya dengan judul celotehan ini yaitu JILBAB. Yups sangat berhubungan erat, kawan. Jilbab itu fungsinya sama seperti nama: identitas pertama, utama, penting sekaligus wajib, bagi siapa? Bagi kaum perempuan yang beragama Islam atau biasa dipanggil Muslimah atau wanita Muslim.
Dalam surat Al-Ahzab ayat 59 diatas jelas disebutkan kata-kata imperative atau perintah bagi kita, wanita Muslim, untuk menutup aurat kecuali wajah dan telapak tangan yaitu dengan kain yang menutupi dada atau jilbab.
Jika ada seorang muslimah yang belum berjilbab karena mempunyai alasan ingin menJILBABI HATI dahulu, sepertinya alasan itu sangat tidak berlandaskan pasa syariah Islam. Kata-kata itu seperti senjata melawan perintahNya yang jelas-jelas menganugerahi tubuh kita yang sehat wal 'afiat dan indah ini secara gratis. Allah SWT menganugerahi kita dengan fisik yang sempurna, namun kita malah melawan perintahNya untuk menjaga tubuh yang Ia titipkan ini untuk kita. Sebenarnya, malah dalam istilah Islam saja kalimat menJILBABI HATI itu TIDAK DITEMUKAN sama sekali. Jilbab itu dipakai di fisik bukan psikis. Masalah hati lain lagi pembahasannya. 
Jika ada lagi alasan lain untuk menolak Jilbab dengan "lebih baik tidak suka bergosip membicarakan keburukan orang lain tapi tak berjilbab" daripada "berjilbab tapi masih suka bergosip", hal itu lebih ironis lagi. Perlu diingat bahwa menutup aurat dengan jilbab itu hukumnya WAJIB, sedangkan hukum meninggalkan yang wajib itu berdosa. Apa seseorang yang tak berjilbab bisa dibilang luput dari dosa bergunjing sedangkan kewajiban menutup aurat saja belum dilaksanakan? Kalau pun iya tidak pernah bergunjing (walaupun rasanya tidak mungkin..) dan berarti lepas dari dosa gibah, bagaimana dengan kewajiban menutup aurat yang belum terpenuhi? Apa dosa tersebut terhapus dengan tidak bergunjing? Wallahu'allam
Allah SWT berfirman:
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." Q.S.Al-Ahzab: 36
Berbicara tentang jilbab diluar konteks hukumnya yang wajib, kita mungkin bisa membahas tentang keuntungan berjilbab.
  1. Sebagai identitas. Muslimah yang berjilbab bisa dengan mudah dikenali dari pada muslimah yang belum berjilbab. Dengan ini kita tidak akan disamakan dengan wanita yang beragama lain. Jilbab juga bisa menjadi indikator keimanan seorang muslimah, hal ini sebagai tanda awal dari ketaatannya pada Allah SWT dan RasulNya.
  2. Sebagai pelindung. Terlepas dari kabar sekitar tahun 2004 di Bandung dimana sekelompok muslimah berjilbab yang, maaf, diperkosa sepulang dari mengaji di DT, Geger Kalong (asuhan Aa Gym) (hal ini mungkin terjadi karena kondisinya yang pulang larut malam), menutup aurat jelas akan melindungi kita dari bahaya tatapan dan nafsu birahi laki-laki. jelas sekali bagi kaum muslim untuk menjaga pandangannya sedang bagi muslimah untuk menutup auratnya yang mengundang syahwat. Sungguh Islam sangatlah seimbang dalam menyikapi segala sesuatunya.
  3. Sebagai penjaga izzah atau kehormatan. Muslimah berjilbab biasanya lebih dihormati dalam pergaulannya, misalnya laki-laki tidak seenaknya memegang tangan, merangkul atau mungkin berkata-kata yang tidak sopan. Terlepas dari fenomena saat ini dimana banyak muslimah berjilbab tapi masih berpegangan tangan dengan yang bukan muhrim, apalagi pacaran, berjilbab tapi tidak menutupi sampai dada, berjilbab tapi jenis pakaian transparan dan atau ketat, jilbab tetaplah mulia adanya namun menjadi disfungsi dan menciptakan salah kaprah karena perilaku salah dan menyimpang yang keluar dari syariat Islam tersebut. Jadi yang mungkin dipersalahkan adalah pelakunya bukan jilbab bahkan menyalahkan muslimah lain yang berjilbab sesuai dengan syariah, menutup aurat kecuali wajah dan telapak tangan, pakaian longgar dan tidak transparan.
  4. Sebagai dakwah. Meski kita tidak memiliki talenta seperti Mamah Dedeh yang lantang menyuarakan ayat Allah, mungkin hal yang paling sederhana yang bisa kita lakukan dalam menyebarkan kalam Illahi yaitu dengan jilbab yang kita pakai ini. Kita dengan tidak langsung menyeru, memberikan model kepada saudara muslimah kita yang lain agar mau segera menutup auratnya. Jika ada muslimah lain yang tertarik memakai jilbab karena keanggunan penampilan juga perilaku serta ucapan kita, insyaalloh dakwah ini akan berganjar pahalaNya. 
  5. Penampilan yang lebih anggun, cantik dan feminin. Coba sekarang bandingkan Marshanda sebelum dan sesudah ia berjilbab. Mana yang lebih anggun? Atau Inneke Koesherawati yang wajah indah berjilbabnya hilir mudik di iklan maupun program tv. Lebih anggun, cantik, feminin dan terhormat kan?
  6. Silahkan kawan-kawan sebutkan keuntungan lainnya dari menutup aurat...pasti masih sangat banyak ya.
Semoga makin banyak saudara muslimah kita yang segera menutup auratnya dengan berjilbab, karena menjadi muslim apalagi kita sejak lahir dan dibesarkan di keluarga muslim adalah nikmat yang seharusnya tidak kita sia-siakan dengan mengabaikan perintahNya ketika kita bernafas dan diberi kesempatan untuk meperbaiki diri, sebelum tiba saatnya sudah tidak bermanfaat lagi penyesalan dan permintaan ampun kita pada Allah SWT.
Wallohu'allam bishowwab.
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." Q.S. Al-Maidah: 3

Akibat Tak Bercermin

0 komentar
Cermin adalah alat untuk kita merapihkan penampilan diri kita agar lebih indah

Aku banyak belajar dari kisah ini, kisah dimana seorang wanita selama kurang lebih tiga tahun menjalin hubungan serius dengan laki-laki yang telah memiliki pekerjaan yang lumayan, dan sejak awal katanya mengaku memiliki visi dan misi ke depan untuk mengikat cinta mereka di depan bapa penghulu, tidak menjamin kebahagiaan. Aku dengar sendiri cerita memilukan dari mulutnya.
Aku sering mendengar kabar tidak mengenakkan dari kisah cintanya itu. Wanita itu selalu mengaku selama kurang lebih tiga tahun perjalanan cinta dengan pangeran pujaannya itu, ia diperlakukan dzalim oleh keluarga calon suaminya. Orangtuanya yang feodal, mengaku Islam tapi tak pernah solat fardu apalagi ibadah wajib dan sunnat yang lainnya, keras, angkuh, pencaci maki, mengancam akan bunuh diri jika ia bersih kukuh menerima lamaran sang anak laki-laki yang juga semata wayangnya, apalagi sampai ke pelaminan. 
Para tante serta rombongan anggota keluarga pihak laki-laki juga tidak kalah kalapnya. Mereka meneror si wanita melalui telepon, mengancam akan mendatanginya jika hubungan asmara mereka terus berlangsung. Mencapnya bukan wanita baik-baik dan bla bla bla.
Begitulah, selalu kabar yang bikin aku mengelus dada setiap kali ia curhat. Kasian dalam hatiku. Kenapa ia begitu malang? Tapi bukankah Allah SWT tidak akan menguji hambaNya diluar kemampuan. Namun di lain pihak aku juga sering herat bertanya apa sih yang jadi pemicu amarah mereka padanya. Kenapa sih keluarga si laki-laki begitu membencinya? Karena tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api, kan? Ditanya seperti itu ia juga tidak tahu. Sounds extremely awkward, doesn't it?
"Iya, mas ini aku sekarang lagi di rumah saudara di Bandung. Ia udah dulu ya, assalamu'alaikum..Nah gitu tih kalau pacaran itu komunikasi harus di jaga, ya minimal sehari sekali telepon laporan apa aja kegiatan yang dikerjain hari itu."
Aku cuma bengong. Maklum aku amateur dalam masalah pacaran. Aku bukan tidak mau pacaran, tapi kepalang tau kalau pacaran cepat atau lambat pasti pegangan tangan dan kemungkinan bisa jadi lebih dari itu. Jika pacaran memeang seperti itu, jelas Allah SWT melarang hambaNya untuk mendekati apalagi melakukan zina. Aku juga kepalang tau kalau Rasul Saw lebih menyukai memegang bara api dari pada bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Tadinya aku mau sampaikan hadist tersebut kepada wanita itu. Tapi tiap dia cerita yang menggebu tentang pacarnya dan betapa dzalimnya dan tertidasnya ia oleh orangtua sang pacar dan keluarganya, aku belum berani menyampaikannya. Padahal jelas kebenaran harus disampaikan meski satu ayat.
Sering aku melihat mereka layaknya orang pacaran yang tidak kenal agama (dalam hal ini Islam tentu saja) padahal si wanita bilang "Dia (pacarnya) tuh punya misi pingin punya keluarga yang berpedoman dengan AL - Quran & Hadis. Dia selalu belajar agama. Koleksi bukunya tuh buku - buku islam, peperangan jaman Islam, Hadist Buhkori & muslim, akidah islam, Al - quran" 
Lalu aku beranikan diri bertanya meski sebenarnya aku tahu jawabannya, apakah mereka suka pegangan tangan. Dia bilang suka. Aku lalu menjelaskan hadist Rasul tadi. Alih-alih menuruti perintah Nabi Saw itu, ia malah berdalih ia bukan manusia sempurna yang belum menjalankan perintah agama dengan sempurna. Aku jadi geli sendiri. Ia juga menjadikan alasan menikah untuk menhindari hal yang seperti itu. Dengan kata lain, selama tiga tahun menghindari zina dengan pacaran berduaan dan pegangan tangan. Astaghfirullahal'adzim. Na'udzubillahimindzalik.
Diingatkan lagi seperti itu, ia malah menuduhku menyerangnya. Menyerang? Loh kalau dia merasa diserang harusnya bukan olehku kan, tapi oleh Rasululloh Saw, sang manusia terbaik pilihan Allah SWT dan dijaminNya masuk surga. karena itu semua adalah ucapan belia bukan semata-mata aku ingin menyindirnya. Aku makin geli dibuatnya.
Aku makin cinta sama kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad Saw yang sangat sangat berat ujiannya dalam menyampaikan risalah Illahi. Bukan lagi cacian yang diterima, tapi sampai darahnya sendiri dikorbankan demi menegakkan kalam Allah di muka bumi ini. 
Aku, baru menyampaikan satu ayatNya saja lalu ditolak mentah-mentah seperti itu, aku naik pitam. Lebih-lebih ketika dia mulai bercerita tentang kisah suami istri yang bercerai karena dahulu mereka hanya ta'aruf. Aku saja mungkin yang terlalu emosional yang mengartikan ucapannya itu tidak lain dengan "hati-hati" kamu juga dulu lewat proses ta'aruf kan? Dengan sedikit amarah aku juga menyatakan banyak yang mencibirku dulu ketika aku memutuskan menerima lamaran seorang laki-laki tanpa bertemu dahulu dengannya. Dengan eksplisit aku menyatakan bahwa dia juga pasti akan mencibirku seperti kebanyakan orang sepeti ia dulu menuduhku menodong seorang laki-laki untuk menikah. Lalu dengan polos aku bertanya apa dia takut bercerai dengan statementnya itu? Aku mencoba mengalihkan pembicarannya yang sangat terkesan menyindirku.
Jujur, baru kali ini aku benar-benar adu mulut dan sedikit bertengkar dengan seseorang yang tak lain masih kerabatku. Dengan teman atau orang lain saja aku tidak pernah, aku selalu menghindari perdebatan yang lebih akan menimbulkan konflik. Lagi pula pikirku buat apa sih kita bertengkar dengan oranglain hanya karena berbeda pendapat? Tiap orang di dunia ini, meski orang tua dan anak, adik dan kakak, nenek dan cucu, paman dan keponakan, suami dan istri, mustahil punya pemikiran yang sama persis, jangankan otak yang berbeda, sidik jadi saja dijamin tidak ada yang serupa. 
Aku tahu, diam-diam aku meragukan perbaikan dari hubungan kami ini. Entah apa pemicunya. Yang jelas aku kini sadar kenapa ia dulu sering bercerita tentang perlakuan semena-mena teman-temannya, atau ketika ia sering merasa dijauhi oleh teman-temannya. Kini aku tahu, saat aku terbakar amarah, aku hanya pantulan dari cerminan perilakunya padaku. 
Kini aku benar-benar merasa iba padanya, iba karena sampai ia menikah hari Jum'at kemarin, ia mungkin masih belum melihat cerminan perilaku dirinya yang dipantulkan oleh tindakan orang lain di sekitarnya. Ia mungkin masih menyalahkan pihak diluar dirinya yang menurutnya semena-mena, masih menyalahkan orang tua yang tidak merestuinya, padahal ia yang tidak mampu membuat orang lain merasa nyaman ketika ia berada di sekitar mereka. Membuatnya susah mendapatkan do'a dari orang lain. Aku sarankan ia segera bercermin, bercermin sangat lama.
Semoga kita selalu bisa melihat, membaca pantulan diri kita di cermin perilaku dan tindakan orang lain. Sehingga jika pantulan kita buram, gelap, berdebu, kita akan segera mengelapnya, membersihkannya. 
Cermin itu adalah hati. Ketika hati kita bersih, maka bersih pula mata, telinga, tangan, kaki, dan mulut kita.

Kata-kata Tersulit Diucapkan

0 komentar
"Maaf" & "Terima Kasih"

Kisah Inspiratif Menjelang Ied Adha/Qurban

0 komentar
RENUNGAN DZULHIJJAH :

QURBAN BU SUMI

Setelah melayani pembeli, saya 
melihat seorang ibu sdg memperhatikan dagangan kami, 
Dilihat dari penampilannya sepertinya gak akan beli.Namun saya coba hampiri dan menawarkan. “Silahkan bu. Ibu itu menunjuk, “Kalau yg itu berapa bang?” Ibu itu menunjuk hewan yg paling murah. 

Kalau yg itu harganya  600rb bu, jawab saya. Harga pasnya berapa?,  500rb deh. harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah.. “Uang saya Cuma ada 450rb, boleh gak”. Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug. “Biarlah..”

Sayapun mengantar hewan ibu,
Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Astaghfirullaah.. Allahu Akbar, terasa mengigil seluruh badan demi melihat keadaan rumah ibu tersebut.

Ibu itu hanya tinggal bertiga dgn ibu dan satu orang anaknya di rumah gubuk berlantai tanah. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.

Diatas dipan sdg tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak..bangun mak, nih liat Sumi bawa apa", perempuan tua itu terbangun. “Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. 

Orang tua itu kaget namun bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.

“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya ke murahan, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yg mau saya 
niatkan buat qurban ibu saya. 

duh GUSTI...Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yg satu ini. HambaMU yg Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar niat dari ibu ini. 

“Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu, biar ongkos bajaj saya yg bayar. Saya cepat pergi sblm ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah krn tak sanggup mendapat teguran dari Allah yg sudah mempertemukan dgn hambaNYA yg dgn kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya...



*cerita ini dibagikan di milis Moslem Korea, nama penulis tidak diketahui.
Semoga bermanfaat bagi kita semua

Rules to Happiness

0 komentar
I incidentally found a picture written with precious remarks. It was displayed on my newsfeed Facebook. I don't intend to elaborate more about each point. I  would rather look at them more closely and carefully, and try to digest them slowly then finally carry them out in my reality. 
So do you. I'd like you to take a look at them and comprehend and on top of that try to implement them in your life. Let me know if you find your life happier after doing so.
Cheerio, 


Tira
Have a nice contemplating!
       

Let's Get Married!

0 komentar
Menikah itu perlu karena penting. Penting karena dengan menikah menjadikan manusia  mulia yang membedakan dari makhluk lain ciptaan-Nya.
“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangann untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi kaum yang berfikir.” Ar-Rum: 21
Kenapa ya menikah penting?
1.  MENIKAH ITU PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan juga orang- orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan mmberikan kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya. Dan Alloh Maha Luas (pemberianNya), Maha Mengetahui.” An-Nur: 32. “Demi Alloh aku adalah hamba yang paling takut pada Alloh dan paling bertakwa kepadaNya, akan tetapi aku ini shaum dan berbuka, mengerjakan solat malam juga tidur, serta menikahi wanita. Maka siapa yang membenci sunnahku, dia tidak termasuk golonganku” (HR Bukhari). Sesuatu yang diperintahkan Alloh dan disunnahkan Rosul pastilah sesuatu yang penting untuk kemaslahatan hidup seseorang. Dengan menikah banyak hal baik malah luar biasa dapat teraih. Perasaan yang lebih tenang karena ada tempat berbagi, bercerita, bersenda gurau, merencanakan masa depan, melahirkan pelanjut nasab dan perjuangan yaitu anak atau keturunan. 
Pra menikah kita sebaiknya mengingat:

  • Menikah itu harus didahului dan didasarkan dengan logika bukan hanya emosi belaka. Cinta saja belumlah cukup, karena menikah melibatkan banyak hal yang berkaitan dengan realita bukan saja angan-angan atau mimpi belaka.
  • Oleh karenanya, Rosul menyuruh kita memilih pasangan hidup dengan empat kriteria: yang cantik/tampan parasnya, yang bagus keturunannya, yang diluaskan rizkinya, dan indah agamanya, tentu kita ingat Rosul mengingatkan bahwa dengan memilih dan memprioritaskan kriteria terakhirlah kita akan selamat. Karena menikah adalah fitrah manusia yang dianugerahkan Alloh pada tiap hambaNya, tentunya jika kita mengharapkan rumah tangga yang harmonis, damai, dan penuh kasih dan cinta kita harus memilih calon pasangan hidup yang mencintai Alloh dan RosulNya. Hendaknya kita menilai seseorang karena kecintaannya kepada agama Alloh dengan melaksanakan perintahNya serta menjauhi laranganNya.
  •  Salah satu cara menilai seseorang itu juga haruslah dengan cara2 yang dicintaiNya seperti ta’aruf sekedar mengenal sifat, cara pandang, pola fikir tidak malah melakukan hal-hal yang diharamkan Rosul dll. Yang tidak kalah penting lagi ialah melaksanakan sholat istihkoroh. Karena jodoh itu ghaib, kita sangat lemah tidak punya pengetahuan yang cukup memadai tentang mana perempuan atau laki-laki yang terbaik yang kita butuhkan menurut yang Menciptakan kita. Dengan sholat istikhoroh kita meminta petunjuk serta arahan dari Yang Maha Mengetahui yang ghoib, benarkah ia lelaki tepat yang akan memimpin kita di masa depan atau perempuan tepat yang akan kita pimpin.dengan istikhoroh insyaalloh ada jawaban untuk pertanyaan kita “is this person really the one?”
  • Sebaliknya, jika menikah didahului dengan emosi, hanya karena cinta salah satu kriteria yang tidak syariatkan agama, misal cinta karena hartanya saja, ketampanannya saja, titelnya saja, pekerjaannya saja, pada saatnya cinta itu habis maka logikalah yang akan muncul dan berkuasa,akhirnya kedua belah pihak yang menikah baru menyadari  mereka tidak cocok,bahwa pernikahan mereka tidak dibangun dengan logika dan pertimbangan aspek-aspek yang menjadikan pernikahan itu penting untuk di bangun seperti salah satunya menegosiasikan tentang peran masing-masing di rumah tangga, suami sebagai imam dan istri adalah ma’mumnya.
2. PERAN KELUARGA BAGI SEORANG MANUSIA
Keluarga adalah sekolah yang pertama dan utama bagi setiap anak. Oleh sebab itu peran orang tua dalam menuntun anak-anaknya dalam memilih pasangan hidup yang baik sesuai dengan yang diharapkan orang tua justru diberikan jauh sebelum kebutuhan menikah itu muncul. Caranya adalah dengan memberikan model atau contoh bagaimana suami istri itu memperlakukan satu sama lain, menjalankan perannya masing-masing dengan hakiki, serta memenuhi kewajiban masing-masing agar terciptanya pemenuhan hak dengan adil. Dengan demikian anak akan merekam, menyerap, dan berperilaku seperti yang dicontohkan orang tuanya. Karena pada dasarnya, anak merupakan cermin dari hati serta perilaku orang tuanya…orang tua yang berperilaku anggun akan melahirkan anak-anak yang berperangai anggun pula. 
Ini dia sekelumit tentang menikah:

  •  Menikah juga berbicara tentang hak dan kewajiban suami istri. Sebelum menikah seorang anak, khususnya anak perempuan, merupakan tanggung jawab orang tua atau walinya. Setelah ijab kabul sah, menikah membuat suaminyalah yang paling bertanggung jawab atas kehidupan sang istri. Istri wajib menaati, melayani, menjaga harta dan kehormatan suami serta merawat anak-anaknya dengan baik dan benar. Sebaliknya suami juga wajib menyayangi istri dan keluarganya dengan cara menafkahi lahir dan batin, jasmani dan rohani.
  • Tugas utama seorang suami ialah melindungi, memimpin, membimbing, dan menafkahi keluarganya. “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” An-Nisa:34. Sodakoh paling baik bagi seorang suami ialah untuk istri dan anak-anaknya. Suami juga hendaknya bertanggung jawab untuk menjauhkan keluarganya dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6). Ridha Alloh bagi seorang istri terdapat pada ridha suaminya. Begitu mulianya menjadi suami yang seperti dicontohkan Rosululloh SAW, sampai-sampai Rosul mengandaikan jika manusia diperbolehkan sujud kepada selain Alloh maka akan disuruhnya seorang istri untuk bersujud kepada suaminya karena tanggung jawab suami yang begitu berat, menjadikan keluarganya (anak istri) hamba-hamba yang diridhaiNya.
  •  Tugas seorang  istri ialah menjadi ratu di rumah tangganya. “Maka perempuan-perempuan yang solehah adalah mereka yang taat (kepada Alloh) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Alloh telah menjaga (mereka).” An-Nisa: 34. Ibu rumah tangga adalah karir paling mulia. Hal tersebut seperti yang pernah Rosul utarakan bahwa jihadnya seorang perempuan adalah ketika ia ikhlas menjalankan semua tugas rumah tangganya hanya karena mencari ridha Alloh SWT. Kenapa karir ini paling mulia? Tidak seperti bekerja di kantoran, pekerjaan ibu rumah tangga tidak mengenal waktu, yakni 24 jam non stop. Selama 24 jam itulah seorang ibu rumah tangga dapat meraup pahala yang luar biasa melimpahnya. Dan perlu diingat kembali bahwa semua orang besar, semua orang sukses, semua pemimpin hebat dan berpengaruh, semua para ahli luar biasa di bidangnya dilahirkan, dirawat, dibesarkan dan dididik oleh seorang ibu, ibu rumah tangga. Semua orang besar dibesarkan dengan kemampuan mencintai. Kemampuan seorang ibu untuk menjalankan karir mulianya itu karena didasarkan pada kecintaan kepada Yang Maha Wadud, Alloh yang Maha Mencintai. Oleh karenanya ibu bisa memberikan cinta disetiap tugas yang ia kerjakan, memasak dengan cinta, mendengarkan dengan cinta, melayani dengan cinta. Cinta tersebut tumbuh karena ibu memberikan seluruh hatinya kepada yang ia hadapi. Itulah ibu rumah tangga, sang ratu di rumah tangganya beserta raja yang agung juga pangeran dan putri yang menyejukkan hati.
3. PASANGAN KITA ITU PENTING BAGI KITA
“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu (suami) dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” QS. Al-baqarah: 185
Karena ia pelengkap hidup kita, karena ia belahan jiwa kita yang senantiasa berada disamping kita saat suka maupun duka. Dengannya kita berbagi rasa kehidupan, rasa indah, rasa pahit, rasa manis, dan rasa-rasa lainnya. Karena pasangan kita seperti Belahan jiwa kita bukan hanya membawa dirinya, tetapi juga membawa nama keluarganya, latar belakangnya, pendidikannya, wataknya, sifat baik dan buruknya, serta pengalaman-pengalaman hidupnya sebelum bertemu dengan kita. Menyatukan dua hati itu tidak bisa dikatakan mudah namun bukan berarti tidak mungkin. Kesulitan akan terasa karena proses adaptasi/penyesuaian diri. Manusia ialah fitrahnya untuk bertransisi, Bukankah bayi yang lahir selalu menangis ketika pertama kali keluar dari rahim ibunya karena ia menemukan dunia jauh tidak nyaman dari kehangatan yang ditawarkan rahim ibunya yang kokoh? Namun jika tidak keluar dari rahim ibunya yang kokoh itu tidak mungkin ia akan tumbuh berkembang menjadi generasi yang mengubah dunia, menjadi khalifah luar biasa di muka bumi ini, menjadi hamba yang diridhai Tuhannya. Begitu juga dengan menikah, canda tawa, suka duka, senang sedih, semua pengalaman tersebut merupakan proses/jalan seorang manusia meraih kemuliaan.
Oleh karenanya, jika kita menemukan hal-hal yang diluar harapan kita dari pasangan kita, karena merupakan keniscayaan bahwa kita menikahi belahan jiwa kita beserta segala kelebihan dan kekurangannya, pelajarilah dengan sabar, kenalilah dengan seksama dan cobalah “bersahabat” dengan kekurangannya tersebut. Jika dapat diperbaiki bersama malah lebih baik. Karena janjiNya “Barang siapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. At-Talak:2)
4. MENDAMBA ANAK-ANAK ROBBY RODHIYA 
“Ya Tuhan, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan solat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.” Q.S. Ibrahim: 40. 
Anak yang soleh dan solehah adalah impian bagi tiap pasangan suami istri. Dan tidak ada yang dapat mendidik anak menjadi hamba yang diridhoi Alloh selain dengan pendidikan Al-Qur’an. Anak diharapkan bisa menjadi penyejuk dan amal jariah (doa anak soleh) bagi kedua orangtuanya. Hal indah ini dapat teraih jika orang tua mereka juga memiliki akhlak Qur’ani. Salah satu cara mendidik anak tercantum dalam Qur’anul Karim surat Al-Lukman (QS 31:13-19).

  • Jangan menyekutukan Alloh, karena musyrik itu adalah kezaliman yang besar
  • Berbuat baik kepada kedua orang tua
  • Bersyukur kepada Alloh dan kepada kedua orang tua
  • Jangan mengikuti orangtua jika mereka menyuruh untuk menyekutukan Alloh akan tetapi tetaplah mempergaui keduanya dengan baik di dunia
  • Alloh Maha Telilti dengan apa yang hambaNya kerjakan, maka akan diberi balasan kebaikan atau kejahatan sebesar sawi sekali pun
  • Laksanakan sholat
  • Amar ma’ruf nahyi munkar, mengajak kepada kebaikan dan melarang kepada kemunkaran
  • Bersabar atas semua takdir yang Alloh tetapkan
  • Jangan berjalan dengan angkuh atau sombong, karena Alloh membenci orang-orang sombong dan membanggakan diri
  • Sederhana dalam berperilaku, salah satunya berjalan
  • Lunakkan suara, karena seburuk-buruk suara ialah suara keledai
Kata keluarga dalam bahasa Inggris adalah family, tahukah kau kawan apa singkatan dari kata family? ternyata Father And Mother I Love You = FAMILY. Jadi keluarga hendaknya menjadi tempat bernaung para anak cucu Adam untuk menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka bertakwa dan menghamba serta beribadah hanya kepada Penciptanya yaitu Alloh SWT.
Last but not least, yuk kita memohon padaNya agar kita dikaruniakan, dihadiahkan sebuah keluarga Sakinah Mawaddah dan Rohmah:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”  Q.S.Al-Furqan: 74
Wallo'allam bishowwab.

Stuck in a Second Gear

0 komentar
Alhamdulilahirabbil'alamin...
ketika merasa "stuck in a second gear" Alloh WST memberikan kesempatan lain untuk berkarya dan mencoba hal baru. Belajar Psikotes ternyata mengasyikkan ya ;-) emang awalnya sempet desperado kok bisa ada soal semenjengkelkan itu. kirain soal matematika teh yang paling menyeramkan ternyata masih ada lagi. tapi aga ada yang ga bisa kalo mau mempelajari dengan tekun. Akhirnya jadi apal cangkem juga ga apa apa lah yang penting bisa berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin dalam mengikuti tes CPNS ini.
Soal-soal seperti TPA, Analogi, Penalaran, Psikotes dll memang sangat bermanfaat bagi suatu lembaga dalam menilai dan menggambarkan seperti apa seorang manusia yang akan atau sedang dipekerjakan di tempat tersebut. Kenapa soalnya belibet dan jelimet seperti itu? ya karena memang manusia pada hakiktnya manusia yang sulit. Bukan kah Alloh pernah berfirman dalam salah satu ayatnya tentang tabiat manusia yang selalu membangkang, tak pernah bersyukur, selalu berkeluh kesah, sering merasa sombong, dan sering merasa selalu benar dengan keyakinan yang salah karena hanya mengikuti hawa nafsunya. Subhanalloh...jenius tuh manusia yang menciptakan alat untuk menilai manusia lainnya.
Pokoknya semangat terus mengejar cita2..!!! (sambil terus berdoa juga tentang cinta ^^)

Manusia Kurang Bersyukur

0 komentar
Kalau punya mimpi,keinginan,harapan,cita-cita,cinta,manusia pasti langsung berdoa.tiap sujud tak pernah lupa dipanjatkan.namun setelah mimpi tersebut terwujud dan ternyata apa yg kita minta menimbulkan masalah baru,kita mengeluh.ugh kenapa hidup selalu seperti habis minum air laut.bikin haus trus.ingin ini,berharap itu,ingin itu,ngebayangin ini.dulu waktu masih SD kepikiran gimana cepet SMP biar bisa belajar Fisika.kan keren!eh udah umur kecapaian itu pelajaran paling dibenci.
Pas SMP adalah masa-masa transisi,mau di kelompok pertemanan seperti apa kita bergaul.akhirnya milih masuk pesantren,dimana ilmu agama ditimba dan bergaul dengan orang-orang soleh pula.hmmm indah sekali masa-masa SMP di dua tempat yang berbeda jadi menambah banyak teman.perkenalan dengan rasa senang terhadap lawan jenis juga terjadi disini.permusuhan antar teman sejenis juga ada.masa-masa dimarahin guru,dijailin teman,kehabisan uang saku,jalan-jalan ke hutan atau ke mall,semua ada.dulu waktu kejadian itu pengen cepat rasanya SMA.
Tapi ternyata SMA malah lebih garing.patah hati terjadi berkali-kali.tapi alhamdulillah prestasi sekolah tidak pernah terganggu.marah rasanya dihianati teman,ditipu laki-laki,menyakiti orang yang sungguh menyayangi kita,salah paham karena ada teman yang comel,harus les bahasa Inggris,harus ujian pesantren,ujian negeri,banyak banget yang harus diurusin.ternyata SMA lebih rumit.
Karena ujiannya numpuk di akhir kelas 3 SMA,sempet kepikiran untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang S1.cape banget!tapi pas baru seminggu liburan bengong trus di rumah...iiiih kesel ternyata jadi pengangguran.akhirnya ngurus-ngurus SPMB ngambil Pend.B.Ing UPI.
Masa-masa awal kuliah sungguh menyenangkan.kuliah jauh lebih ringan dari pelajaran di SMP & SMA yang harus enam hari belajar.waktu kuliah hanya membutuhkan tiga hari dalam seminggu.tapi jarak yang ditempuh lumayan lama 2 jam naek angkot!huft...tidur di angkot adalah solusi yang paling tepat untuk membunuh cangkel dan jenuh di angkot.
Ketika masuk ke semester berikutnya,,,mulai kerasa susahnya kuliah.presentasi nggak pernah berhenti,tugas bikin artikel mengalir terus,tugas kelompok numpuk sampe bingung temen mana aja yg bareng kelompok di mata kuliah tertentu.
kuliah ternyata lebih jauh melelahkan.kayanya emang mendingan kerja dapet duin bisa jajan pake uang sendiri.
Pas udah kesampaian lulus setelah pengorbanan jiwa dan raga tercapai,waktunya mencari kerja. akhirnya keterima di suatu tempat mengajar yang nyaman.tapi kenyamanan tersebut juga harus dibayar dengan kelelahan yang sangat,hanya 4 jam kerja dalam seminggu ternyata melelahkan..
Jadi kepikiran ingin nikah dan mengurus keluarga aja.betulkah solusi ini yg terbaik sebagai pelampiasan kelelahan kerja?rasanya memang harus banyak belajar dari pengalaman rasa tidak puas dimasa lalu.
Ketidakpuasan terhadap sesuatu sama dengan tidak menyuskuri apa yang telah,sedang,da akan diberikan oleh Nya.
Semoga bisa menjadi hambaNya yang lebih bersyukur lagi...amin.