JIKJI (Part 3)

Sepulang ia dari Rusia kembali ke Korea dan aku kembali ke rumahku di Panyileukan, Bandung, kami seperti biasa melanjutkan komunikasi kami secara intens via sms dan YM. Tidak seperti awal-awal kami mulai menjalin dimana ia begitu pesimis akan dapat melanjutkan itikad baik kami ini karena terbentur jarak, biaya, dan banyak hal lainnya yang akan menyulitkan kami menjalin kasih apalagi menikah. Aku ingat ia sampai menceritakan secara detail tentang akan bagaimana nanti kehidupan kami jika kami sampai menikah dan ia masih menjalankan studi nya di Korea sana. Ia memperingatkanku kalau jika kami bertakdir untuk menikah, ia tidak akan bisa membawaku menemani layaknya seorang istri yang akan pergi kemana suaminya pergi istilah lainnya "long distant marriage". Ia sampai menyinggung tentang hal pemenuhan nafkah lahir dan bathin yang mungkin tidak akan terpenuhi dengan sempurna jika kami menjalani pernikahan jarak jauh. Wah sungguh pemikiran yang sangat futuristik, karena saat itu bagiku mengenalnya saja juga sudah cukup. Aku tidak berharap pada laki-laki lagi setelah dihianati, dicapakkan dan ditinggalkan dengan sejuta harapan oleh laki-laki yang ternyata hanyalah banci, karena mengucapkan selamat tinggal pun ia tak sanggup. 
Tanggapanku pada pemaparan kenyataan yang baru akan kami hadapi itu aku tanggapi dingin. Aku hanya menunjukkan bahwa aku wanita kuat dan istimewa, jika ia menginginkan kecantikan dan semua kelebihan yang Allah SWT anugerahkan padaku, ia pasti akan melakukan apapun; walau harus lintasi lautan, benua, dan langit sekalipun. Aku toh tak rugi apapun jika ia mundur seperti yang sebelumnya. Aku akan terus menanti seseorang yang ingin memperjuangkan dan mengimplementasikan niat suci mengabadikan "mitsaqon ghalidza" atau ikatan kuat pernikahan dihadapan Allah SWT, orangtua kami dan para tamu dan malaikat yang dimuliakan.
Namun keraguanku dan keapatisanku dijawabnya dengan sebuah email yang berisi keyakinannya tentang hubungan kami:

Assalaamu 'alaikum...

mas abis sholat. kurang khusuk, memang  susah mencapainya..

dalam ketidakkhusuan, mas ingat sering tulis "time is part of solution..."  sedang Allaah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. dengan demikian muncullah "time is part of problem...". mas mau ajak fitri melihatnya dari sisi yg berbeda meski tidak memungkirinya... kita ubah jadi "time is part of challenge..." so, let it be our paradigm. dalam challange ini kita pilah mana problem dan mana solution.

dengan bekal paradigm yg Allaah tanamkan dalam hati dan pikiran, bersiap dirilah menghadapi segala kemungkinan. paradigm ini menjadi kaki tangan kita pada iman dan islam yang telah Allaah tanamkan. meski buah amal dari paradigm itu tidak semudah mengetik imel ini, setidaknya sudah melangkah dari reference paradigm.

keep praying solemn

mas
:) senang

Lalu menyusul smsnya berisi : Lekaslah tidur siapa tahu ada jawaban malam ini.
Tanpa mengubah hatiku yang tak mau lagi terlalu percaya pada janji dan ucapan manis laki-laki, aku menanggapinya dengan baik, sebaik niat baiknya. 
Dua hari kemudian ketika aku pulang mengajar, ibu dengan biasa menyambutku dengan senyum dan kasih hangatnya. "Ada sesuatu yang istimewa buatmu". Wah apa ya apa aku dapat hadiah mobil dari BANK yang aku menabung uang padanya? hehe. Ternyata lebih dari itu, ibu menyerahkan sebuah amplop ukuran HVS berwarna coklat padaku. Dengan penasaran aku buka dan ku ambil kertas HVS didalamnya. Surat itu ternyata permintaan dia kepada bapaku untuk menjadikanku sebagai istrinya. Aku terharu. Lalu aku buka satu buah amplop lebih kecil berwarna hijau lembut bertabur bunga-bunga kering. Ibu tersenyum sumringah melihat anak putri pertamanya mendapat surat lamaran dari seorang laki-laki jantan, seperti aku mendengar ibu berdo'a semoga inilah jodoh anaknya.
Dengan perasaan haru bahagia, aku buka surat dalam amplop itu. Ia berniat menjadikanku sebagai istrinya. Dan yang paling menyentuh relung hatiku adalah kata-kata terakhirnya, "Semoga mas bisa menjadi suami sesuai tuntunan Rasulullah SAW". 
Keesokan hari janjinya untuk menelepon ayahku ia laksanakan. Aku dengar mereka berkenalan di telepon dengan antusias. Saling mencoba mengenal satu sama lain, walau hanya melalui suara saja. Lebih dari setengah jam mereka bercakap. Bapa mengakhiri pembicaraan, khawatir pulsa internasional menggerus isi kantongnya. 
"Dewasa." Bapaku berkomentar tentangnya.
"Diplomatis." Komentar ia tentang bapaku.
Tentu saja bapa adalah seseorang yang sangat pandai memperindah kata-katanya, niatnya pun tersampaikan dengan mudah. Intinya jika memang niat suci itu benar, buktikanlah. "Selamat menjalankan tugas studi dan tugas-tugas lainnya." Bapa menutup pembicaraan mereka, pembicaraan antara laki-laki sejati.
Keesokan hari aku bertanya padanya kapan kira-kira keluarganya akan datang ke rumah untuk bersilaturahim dan mengenal satu sama lain. Tak disangka dengan mantap ia mengatakan hari minggu ini keluarganya akan ke rumah ku. Wow! Cepat sekali. Yang mengagetkanku lagi, orangtuanya nanti akan langsung melamar aku untuknya. Ya Allah.. Semoga ini benar-benar jawaban dari istikharah kami.
Hari minggu itu tiba, hari dimana akan ada keluarga yang melamarku untuk salah satu anak laki-laki mereka. Yang membuatku sedih hanya satu, laki-laki itu tidak akan ikut datang karena masih belum waktunya pulang ke tanah air. Sampai saat itu, aku tidak pernah tahu seperti apa laki-laki yang akan melamarku dan akan menjadi suamiku. Pantas saja banyak orang yang ragu dengan keputusanku menerima lamarannya. Mana mungkin aku tidak pernah bertemu dengan calon suamiku sampai satu minggu sebelum pernikahan kami? 
"Nikah itu sekali, jadi harus cocok semuanya. Kita suka nggak dengan cara dia bicara, cara dia berperilaku, dll. Sifat asli seseorang tidak akan terungkap kalo cuma ngobrol via chatting loh. Hati-hati aja banyak penipuan lewat FB sekarang ini." Aku hanya diam, kadang berbohong kepada mereka yang bertanya berapa lama kami ta'aruf dan apakah kami sudah bertemu muka. Kata-kata dan cibiran mereka hanya melemahkanku saja.
Sekitar pukul 11.30 mereka sampai di rumahku. Hatiku berdegup kencang, aku lihat sebuah city car dan motor bebek berhenti di depan pekarangan rumah. Satu per satu penumpangnya keluar. Aku, bapa, ibu, adik serta nenekku menyambut mereka dengan senyum terhangat kami. Aku perhatikan seorang wanita sedang hamil menyerahkan bingkisan, itu kakaknya, anak pertama dari tiga bersaudara. Lalu wanita sepuh berbaju dan kerudung putih itu sang ibundanya, lalu laki-laki seouh berkopiah putih itu adalah ayahandanya. Ditemani dengan adik ipar, kakak ipar, dan seorang sepupu sebagai petunjuk jalan karena ia kebetulan tinggal di Cimahi.
Prosesi lamaran dilaksanakan setelah sholat dzuhur. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku benyak diyakinkan oleh keluarga termasuk istri dari sepupunya bahwa ia adalah seorang laki-laki yang baik, seorang pemuda masjid.
Lalu tanggal pernikahan kami pun segera ditentukan sesuai dengan permintaannya yaitu tanggal 10 September 2011. Kami menyetujui. Ibunya lalu menyerahkan amplop untuk tambahan biaya acara akad dan resepsi nanti kepada ibuku.
Tak terasa waktu telah beranjak sore. Mereka, yang insyaallah akan menjadi keluarga kami, pamit pulang.
Aku langsung menyambar laptopku mengabarinya kabar baik ini. Ia langsung mengucap syukur, kami mengucap hamdallah. Ia lalu pamit untuk offline karena akan segera mencari kontrakan bagi kami nanti.
Dua bulan kedepan adalah dua bulan tersibuk dalam hidupku. Sibuk mempersiapkan hari indah itu, dan sibuk menghadapi pesimisme orang-orang disekitar.
But this love must go on no matter what they say.
Bapa, Amru dan Mama
to be continued..

0 komentar:

Post a Comment